Bikin Haru dan Bangga! Mahasiswa STAH Dharma Sentana Angkat Kearifan Kaili Lewat Tari Mokambu
Penampilan Tari Mokambu oleh mahasiswa di STAH Dharma Sentana
Palu, 14 Maret 2026 - Penampilan Tari Mokambu oleh mahasiswa di STAH Dharma Sentana turut memeriahkan Pembukaan Musyawarah Besar (Mubes) organisasi kemahasiswaan BEM, DPM, dan HMJ. Tarian tradisional khas masyarakat Kaili ini dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Niluh Alya Septiani, Syakia Putri, Asti Rahayu, Ni Nyoman Desi, dan Niluh Indyani.
Tari Mokambu memiliki makna sebagai simbol penyambutan, penghormatan, serta ungkapan rasa syukur masyarakat Kaili. Gerakan-gerakannya mencerminkan kelembutan, kebersamaan, dan nilai-nilai kearifan lokal yang dijunjung tinggi dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, pementasan tari ini dinilai sangat tepat untuk membuka kegiatan besar seperti Mubes, yang sarat dengan semangat persatuan dan musyawarah.
Salah satu penari, Syakia Putri, mengungkapkan bahwa pengalaman pertamanya menampilkan Tari Mokambu di lingkungan kampus memberikan kesan mendalam.
“Pengalaman pertama saya saat menarikan Tari Mokambu di STAH Dharma Sentana memberikan kesan yang mendalam. Saya merasakan antara rasa bangga dan haru karena dapat memperkenalkan salah satu warisan budaya Kaili di lingkungan kampus. Meskipun sempat merasa gugup, karena suasana yang mendukung membuat saya lebih percaya diri dalam membawakan tarian tersebut,” ujarnya.
Lebih lanjut, Syakia juga menekankan bahwa sebagai bagian dari masyarakat Kaili, ia merasakan tanggung jawab untuk menjaga dan menghormati nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tarian tersebut.
“Sebagai orang Kaili, saya juga merasakan tanggung jawab untuk menampilkan Tari Mokambu dengan baik dan penuh penghormatan terhadap nilai-nilai budaya. Penampilan tersebut menjadi momen yang berarti, karena tidak hanya sebagai bentuk ekspresi seni, tetapi juga sebagai upaya melestarikan budaya daerah di tengah lingkungan akademik,” tambahnya.
Pembukaan Mubes yang diawali dengan Tari Mokambu ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal di lingkungan kampus. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga berperan dalam melestarikan warisan budaya Nusantara.
Tulis Komentar