BAHASA EMANSIPASI WANITA MENURUT HINDU DOSEN STAH TAMPIL MEMUKAU DI TVRI SULTENG
Dalam acara yang dipandu dengan apik oleh host I Wayan Amerta, S.H., Ni Wayan Putri Selviani memberikan perspektif mendalam mengenai esensi emansipasi. Beliau menekankan bahwa emansipasi wanita dalam ajaran Hindu bukanlah sebuah ajang persaingan atau upaya untuk mendominasi kaum laki-laki. Sebaliknya, emansipasi adalah perwujudan dari kesetaraan, penghormatan, dan keharmonisan peran antara laki-laki dan perempuan dalam menjalani roda kehidupan.
DARSANA NEWS- PALU,25 April 2026 – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh civitas akademika Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) di kancah publik. Salah satu dosen terbaik STAH, Ni Wayan Putri Selviani, S.Pd., M.M., dipercaya menjadi narasumber utama dalam program dialog edukatif di TVRI Sulawesi Tengah (Sulteng). Dalam kesempatan tersebut, beliau mengupas tuntas tema yang sangat relevan dengan dinamika sosial saat ini, yakni "Emansipasi Wanita Menurut Hindu."
Dalam acara yang dipandu dengan apik oleh host I Wayan Amerta, S.H., Ni Wayan Putri Selviani memberikan perspektif mendalam mengenai esensi emansipasi. Beliau menekankan bahwa emansipasi wanita dalam ajaran Hindu bukanlah sebuah ajang persaingan atau upaya untuk mendominasi kaum laki-laki. Sebaliknya, emansipasi adalah perwujudan dari kesetaraan, penghormatan, dan keharmonisan peran antara laki-laki dan perempuan dalam menjalani roda kehidupan.
Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa perempuan memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam teologi Hindu. Hal ini diperkuat dengan landasan kitab suci, salah satunya tercermin dalam sloka Manusmriti yang menyatakan bahwa di tempat perempuan dihormati, di sanalah para dewa merasa bahagia. Nilai filosofis tersebut menegaskan bahwa penghormatan terhadap perempuan bukan sekadar etika, melainkan pondasi dasar bagi terciptanya keluarga yang harmonis dan masyarakat yang sejahtera.
Secara spiritual, perempuan dipandang sebagai manifestasi dari Sakti, yaitu energi Ilahi yang menjadi sumber kekuatan, kebijaksanaan, kemakmuran, dan keseimbangan alam semesta. Berdasarkan prinsip ini, tidak ada sekat bagi perempuan untuk berkembang. Setiap wanita Hindu memiliki hak yang setara untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin, berkarya secara profesional, memimpin organisasi, serta berperan aktif dalam urusan sosial maupun ritual spiritual.
Meskipun dasar ajarannya sudah sangat inklusif, Ni Wayan Putri Selviani tidak menampik adanya tantangan nyata yang dihadapi perempuan masa kini. Beliau menyoroti isu-isu krusial seperti diskriminasi, kekerasan, hingga beban ganda yang sering dialami perempuan yang menyeimbangkan karier dan keluarga. Sebagai solusinya, beliau menawarkan pendekatan melalui penguatan karakter, dukungan penuh dari keluarga, serta penyediaan ruang publik yang adil dan aman bagi perempuan.
Kehadiran dosen STAH sebagai narasumber di TVRI Sulteng ini menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat luas melalui media massa. Pencapaian ini sekaligus menjadi tolok ukur kualitas sumber daya manusia yang dimiliki STAH, yang terbukti mampu tampil dan berperan aktif dalam berbagai forum strategis di tingkat daerah, memberikan dampak positif bagi opini publik.
Menanggapi hal tersebut, pihak kampus menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kepercayaan yang diberikan oleh TVRI Sulteng. Momentum ini diharapkan dapat menjadi pemicu semangat bagi seluruh civitas akademika STAH untuk terus berkarya, mengukir prestasi, dan menjaga nama baik institusi. Dialog ini ditutup dengan harapan agar pesan-pesan luhur mengenai pemuliaan perempuan dapat terimplementasi dengan nyata di tengah masyarakat.
Tulis Komentar